“Kalau Mau Dapat Kamar, Noh Ruang Jenazah Selalu Kosong”: Komentar Oknum Dokter Viral, Tuai Kecaman Publik

waktu baca 2 menit
Jumat, 7 Agu 2026 02:56 127 Redaksi

 

NASIONAL – Komentar seorang oknum dokter di media sosial yang berbunyi, “Kalau mau dapat kamar, noh ruang jenazah selalu kosong,” memicu gelombang kecaman dari masyarakat. Unggahan tersebut ditujukan kepada almarhum Yurizal, pasien BPJS Kesehatan yang sebelumnya mengeluhkan harus menunggu hingga sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap.

Tak lama setelah keluhannya menjadi perhatian publik, Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Hingga saat ini belum ada pernyataan resmi yang menyatakan adanya hubungan sebab akibat antara lamanya antrean ruang rawat dengan meninggalnya almarhum.

Sosok oknum dokter tersebut diketahui adalah dr. Benny Christian Sihombing. Setelah namanya menjadi sorotan dan menuai kritik luas dari warganet, ia akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui sebuah video.

“Selamat malam semuanya, nama saya Benny Christian Sihombing. Saya ingin menyampaikan permohonan maaf atas ketikan saya di media sosial Threads. Saya juga ingin menyampaikan turut berduka cita kepada pemilik utas yaitu almarhum Yurizal. Saya berdoa semoga segenap keluarga diberikan penghiburan,” ujar dr. Benny.

Dalam pernyataannya, dr. Benny mengaku menyesali tindakannya dan menyatakan siap menjalani seluruh proses yang berlaku. Ia mengaku tidak akan mencari pembelaan, siap menerima proses hukum apabila diperlukan, serta bersedia menerima sanksi dari rumah sakit, organisasi profesi, maupun Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

Ia juga meminta maaf kepada rekan-rekan sejawat karena mengakui tindakannya telah mencoreng citra profesi dokter.

Selain dr. Benny, dokter Elda Putri Rahardini turut menyampaikan permohonan maaf atas komentarnya yang berbunyi “Haven’t some brain cells.” Dokter penerima beasiswa LPDP sekaligus peserta didik Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Universitas Gadjah Mada itu mengakui komentarnya tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan kurangnya empati.

Permintaan maaf juga datang dari tenaga kesehatan lainnya, Widhiyarini Pangestika, yang sebelumnya menulis komentar, “Potong aja kak nadinya nanti cepat dapat ruangan.” Ia menyatakan penyesalan dan meminta maaf kepada masyarakat atas komentarnya tersebut.

Kasus ini memicu perdebatan luas mengenai etika tenaga kesehatan dalam menggunakan media sosial. Banyak pihak menilai tenaga medis sebagai profesi yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan harus tetap menjaga empati, baik saat memberikan pelayanan maupun ketika menyampaikan pendapat di ruang digital.

Di sisi lain, publik kini menantikan tindak lanjut dari institusi terkait, baik berupa pemeriksaan etik maupun langkah hukum sesuai ketentuan yang berlaku. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berpendapat di media sosial tetap memiliki batas etika, terlebih bagi profesi yang mengemban kepercayaan masyarakat.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA